Satu inci dan dua gigabytes lebih muram

Aku tertidur di dalam batang pohon selebar kasur queen size
cukup untuk bolak-balik gelisah dua kali
bermimpi terbangun di kamar yang hujan lebat
air menjalari tembok
mirip sepasang pipi
yang rutin bersedih di minggu sore

merindukan lautan empat inci seluas Pasifik
yang telah kau upgrade menjadi lima inci
dan random access memory yang dua gigabytes lebih cepat

menjadi tiga gigabytes akses memori acak yang sesak
dan lautan yang satu inci lebih kelam
sama dengan mimpi-mimpi yang lebih seram
menyuluti amygdala dalam-dalam
menjalar cepat tanpa suara
yang baru berhenti oleh sebuah lagu
soal pohon bergamot yang membuatnya padam

Bising

Akhir-akhir ini palu-arit tampil tak hanya di toko bangunan, tapi tiba-tiba juga meramaikan berita, timeline, sampai obrolan antargrup. Komunis atau PKI sedang jadi bulan-bulanan. Tak sulit lah menebak pihak mana yang pro soal pelarangan ini-itu yang “berbau komunis”. Polanya lagi-lagi terasa tak berbeda jauh juga dengan waktu hebohnya isu LGBT beberapa bulan lalu (apa kabar ya sekarang?). Sumbu-sumbu isu yang hanya perlu dibakar dengan satu-dua berita yang hampa nilai jurnalistik, kemudian lekas terbakar oleh kepanikan masyarakat atas nama moral. Oh tentu mudah terbakar, bahan bakarnya mudah ditemukan di mana-mana kok, ketidaktahuan. Yang beragam itu alat pengipasnya, tapi yang favorit ya agama dan Pancasila. Menurut saya, siapa pun yang paham rumusnya, punya sumber daya, waktu, dan motif yang memadai sih nggak terlalu sulit melakukannya.

Maka, sayang rasanya jika keberpihakan terhadap yang dipinggirkan, disakiti, dan didiskriminasi pun berakhir menjadi asap. Sayang karena keberpihakan kita–dalam bentuk status marah-marah, membodoh-bodohi berita, termasuk menggunakan jargon untuk membela, apalagi menggunakan lawakan-lawakan dan ironi yang cenderung bias kelashanya akan berujung menjadi pengipas isu.

Bias kelas karena premisnya menjadi semacam:
“Nggak pernah baca buku Karl Marx yah, bego deh!”


Di Indonesia, buku–bahkan ilmu pengetahuan, adalah sesuatu yang masih sangat bias kelas. Akan tidak bias jika kalimatnya: “kaya raya kok nggak baca buku”. Pernyataan, konten, status atau apa pun yang menggunakan formula ini saya jamin nggak solutif seciprat pun. Lagi-lagi, hanya pengipas api yang kepalang terbakar, setidaknya turut menyebarkan asap-asap yang memburamkan yang ingin diburamkan.

Media, orang, atau siapa pun yang menanggapi isu ini dengan metode knowledge-based pun lebih patut diapresiasi. Setidaknya, memanfaatkan momen menjadi celah membuka mata dengan menjadi relevan. Menjadi suara jernih di tengah kebisingan pendapat yang nggak mampu menyentuh kepala dan hati masyarakat yang tidak tahu. Lagipula ada yang senang dan diuntungkan ketika kita bising.

A Mi Manera

Nggak perlu banyak alasan buat saya untuk memutuskan menonton serial Better Call Saul. Fakta bahwa ini adalah spin-off story dari salah satu serial paling gila yang dulu saya ikuti, Breaking Bad (2008-2013) sebenarnya sudah lebih dari cukup. Tapi lebih dari itu, serial ini juga dibuat oleh orang yang sama, Vince Gilligan, dan bercerita tentang salah satu karakter pendukung Breaking Bad yang nyentrik berat, Saul Goodman. Meskipun pada awalnya Better Call Saul seperti memikul beban berat dari Breaking Bad, namun ternyata serial ini tak kurang intensnya. Sama-sama bisa buat yang nonton punya rasa sayang dan benci yang sama besarnya terhadap karakter-karakternya. Selain itu, sama-sama berhasil bikin penontonnya cukup berantakan dalam mengartikan konsep moral dan nilai. Kita seperti ditantang buat menerima Jimmy McGill, nama asli Saul, dengan cara-cara anehnya dalam mencapai tujuan hidupnya.

Menolak tawaran dan sengaja minta dipecat dari firma hukum bergengsi bukan tindakannya yang paling gila. Begitu juga waktu Jimmy bohong habis-habisan pada guru sekolah cuma supaya bisa pakai bendera Amerika di lapangan sekolah buat latar belakang syuting iklannya. Jimmy yang mungkin bisa langgar banyak hukum dan aturan kerja pengacara demi mengikuti kata hatinya ini punya pacar yang sama-sama pengacara, Kim Wexler. Berkebalikan dengan Jimmy, Kim ini pengacara yang lurus banget, kerja keras, ambisius, dan nggak akan mau langgar hukum. Kim kerja di firma kakaknya Jimmy, Charles McGill, yang juga merupakan panutan Jimmy di dunia hukum. Menurut Jimmy, kakaknya Chuck ini adalah pengacara yang pintarnya kelewatan dan memang YA (terutama setelah menonton episode terakhir di season dua).

Ada satu adegan sederhana yang menurut saya cukup membekas di season dua. Karena kelakuan Jimmy yang dianggap merugikan, Kim yang jabatannya sudah tinggi ini pun dihukum oleh bossnya untuk kerja di bagian filing. Adegan ini menurut saya merupakan bangunan paling kuat dalam penggambaran karakter Kim Wexler sejak season pertama. Dalam waktu kurang dari tiga menit, tepatnya dalam durasi satu lagu penuh milik Gypsy King, “A Mi Manera”, Kim meneleponi entah berapa banyak kontak yang ia punya cuma buat satu tujuan, keluar dari bagian filing dengan penuh martabat.

Kim bukan Jimmy dengan pilihan-pilihan gilanya, yang ia lakukan adalah kerja keras dengan tekun dan gigih agar mendapatkan klien penting buat Hamlin, Hamlin, & McGill. Dengan asumsi bahwa mendatangkan klien penting akan mengembalikannya ke posisinya. Di luar hubungan romantik dan rasa sayangnya pada Jimmy, Kim nggak rela pakai cara Jimmy. Lagu “A Mi Manera” yang merupakan versi gypsy-nya “My Way” dari Frank Sinatra pun rasanya nggak akan pernah sepas ini dimainkan dari awal sampai akhir dalam serial televisi tentang pengacara.

Genre: Dystopia

Anggap saja kita telah tiba di hari-hari yang menggelap. Ketika oksigen tak mampu mencapai dada dan udara semurni apa pun akan berarti sesak. Matahari diselimuti debu tebal yang membuat sinarnya patah-patah. Bencana pernah terjadi ketika bahkan semangkuk indomie kuah nikmat di hari sehabis hujan tak sanggup dinikmati seperempatnya saja. Kiamat ketika itu terjadi berkala, kesenduan yang mengunyah nafsu makan dengan rakusnya. Atau menelannya bulat-bulat seperti raksasa yang menelan matahari dan bulan di waktu gerhana. Bedanya, raksasa memuntahkannya lagi setelah genderang ditabuh-tabuh, sedangkan kesenduan malah mencernanya menjadi kesenduan berikutnya.

Pada hari itu, kamu sudah tahu di mana koper daruratmu yang sengaja kamu kosongkan. Di perjalanan nanti terlalu banyak yang akan perlu kamu angkut dan bawa kabur. Jika nanti hari benar-benar menggelap, kakimu yang telah kaulatih jalan mundur akan membawamu keluar orbit, perlahan-lahan. Terdengar mudah, tapi dari jarak ribuan tahun pun ngilunya tak tahu diri.

Bagi sebagian orang, kelegaan didapat cuma-cuma. Bisa jadi itu yang disebut-sebut surga selama ini. Namun untuk sebagian orang lainnya, kelegaan harganya mahal. Kakimu harus patah, setidaknya lecet. Lehermu mau putus, minimal gatal-gatal. Mimpimu buruk lagi, buruk lagi, buruk lagi. Sampai nafasmu lompat-lompat, nyaris tandas.

Tapi pantas.

Muted Heart

Sometimes I’m quite a good entertainer
Today I entertained myself with a plastic cup of green tea latte
Less sweetener, please, already too much fatte
Didn’t forget a piece of glazy cinnamon roll
And a delightful view of a hanging railroad

I occupied a table for three
Though there were no other but me
I watched the train was sailing
When you see a train with blue sea sky backdrop
It looked as if it was a ship
A snaky one

And that fatherly deep sound of train
Tasted like raisin on top of a lonely bread
The other sounds were the lonely bread
Car machine, klaxon, buzzing conversation,
and shouting that muted by thick semi-solid petroleum
If we put some down beat and deep bass to them, it’d be on Björk next album

Night was coming but I was really still an entertainer
I decided to hitchhike a pirated small ship
Which I’ve already booked
Then it’d sound like a pseudo-pirated-ship
Which I thought would only had two passengers
A couple of dwarf
But the door was opened and I found three lives
Plus a flat giant
A hitchhiker too
Guess that made us two

of pirates
with semi-solid petroleum
coating each of our heart

Cangkir Bocor

Kali ini Waldo adalah sebabmu beresah-resah
Ia bersembunyi di kerumunan kepalamu
Mengendap di runyamnya mimpimu
Mengaspal jalan di tengah manusia dan bahasa yang saling mengerumuni
Membuatmu makin-makin merasa sendiri
Kau menuangkan teh hangat
ke dalam cangkir yang belakangan kausadari
dasarnya dipenuhi lubang

Kau masih haus
dan lebih haus

I’m not that deep I’m a well

Aku diculik ember timba
Lalu dibawa tinggal di dalam sumur
Dalam
Runcing
Gelap

Tak ada yang terjadi di sini
Hanya putaran kemarin yang berlalu
dan terus-terusan begitu
Juga esok yang selalu
on the way

Di sini bunyi-bunyi selalu fading out
Kamu agak menangis
dari sini kedengarannya begitu
Dan agak-agak tertawa, tampak begitu

Tak ada yang sekedar begitu
Tapi sekadar begini
Jika kita paham perbedaannya
Suara harmonika dan suara jangkrik
Tak perlu lagi obrolan tatap muka
Semuanya mengirim pesan lewat bisikan yang dititip pada abang gojek
Perkataanmu seharga biaya bensin yang dikalikan kilometer ditambah biaya kapital intelektualitas, lalu dikurangi kode voucher promo

Meski begitu banyak pilihan transportasi asik
di loket-loket yang menganggur
dan berbagai jenis kelas tiket masuk
tapi kamu tak bisa masuk

Kaos kaki basah

orang-orang berkumpul seperti kaos kaki basah
duduk lembab, mengobrol gatal-gatal
seperti tanah yang terlalu kental
dan tawa yang terlalu kering
untuk ditumbuhi bunga
tegur sapa yang berjamur dan lecet
butuh kompresan 40% alkohol
dan 60% keacuhan
ke layar yang melayang-layang
kesadaran yang bergentayangan
kaos kaki basah yang bergelantungan
di kabel-kabel yang bisa mengartikan
kata-katamu tadi malam
yang tertumpuk lumpur

2015 Journal mash up

A raging contemplation
Like throwing penguins to survive living in a desert and move camels to the arctic
Not everyone is ready for our honesty
But it was like an imaginary confession
I’m in the middle of a hurricane at home with electricity blackout, neighbor’s car alarm noise shouting the thunder
Wonderful how people could make something that means a lot for some strangers’ life
Quite scandalous… But who am I to judge.
You didn’t expect something to be there but it was there, when you needed it the most.
But still I feel as empty as the old cinemas outside 21 chains
The quirky yet lovely combination: a typical sexist narcissist guy, a computer nerdy + alpha urban male, a young married mom with endless trains of troubles, a stylish gay with simple way of thinking
Add any new people and I’ll become a totally different person
Since when this became a daily journal summary?
Unfuckingfortunately!
AND I HAVE AN EDITING HOMEWORK WHILE WRITING THIS
Liburan atau meledak
Nothing’s too special this week, but I feel so tired
My financial condition wasn’t really good this weekend
They were what I would call the travel snobs
Open trip always made me realize how introvert I am

Lima Belas Menit Rapalan Tanpa Beat Jay Electronica

Ditulis untuk Disorder Zine.

 

Awal tahun ini pertama kali saya dengar lagu rap paling puitis dari Jay Electronica berjudul “Act I: Eternal Sunshine (The Pledge)”. Dengan begitu ambisius, dalam 15 menit Jay menggunakan potongan film, orasi, dan bentuk suara lain sebagai sampel di sela-sela rapalannya.

Di Sabtu sore itu, saya mendengarkan lagu ini sambil ketiduran. Di bagian keempat, sebelum part “Voodoo Man”, terdengar suara anak-anak bicara bahasa yang saat itu saya ragu antara bahasa Persia atau Kurdi (cek ke menit 10:55 di SoundCloud). Saya yang setengah tidur sambil dininabobokan oleh lagu ini di earphone pun setengah memimpikan film yang sudah lama saya tonton, Turtles Can Fly (2004). Mungkin karena kebetulan (atau bukan) dan minimnya tontonan film berbahasa Kurdi saya, setelah saya cari tahu kemudian, ternyata memang sample yang digunakan oleh Jay Electronica di bagian tersebut berasal dari film Turtles Can Fly, sebuah film Kurdi tentang kehidupan anak-anak kamp pengungsi Kurdi di perbatasan Irak dan Turki.

Dari video YouTube di atas (cek menit ke:4.14), sampel dialog yang diambil dari film tersebut berasal dari adegan ketika seorang anak tunanetra berjalan mendekati ranjau dan sekumpulan anak-anak lainnya memberikan instruksi dari seberangnya. Bagian lagu yang bikin saya merinding setiap kali mendengarkannya ulang.

Bisa jadi Jay Electronica adalah salah satu rapper yang masih bisa diharapkan yang mampu masuk ke label dan jaringan besar saat ini (dikontrak oleh Roc Nation-nya Jay Z pada 2010). Kemampuannya memainkan kata, momentum, rima, jeda, dan penempatan elemen bunyi lainnya begitu cerdik dan tangkas. Lima belas menit “Act I: Eternal Sunshine (The Pledge)” diiringin oleh musik dari soundtrack film Eternal Sunshine of The Spotless Mind (2004) dari Jon Brion. Lima belas menit rap tanpa drum dan beat.

“I took Eternal Sunshine and I looped it
No drums no hook just new shit”

 

 

 Musik asli dari Jon Brion – “Collecting Things”

Jay Electronica tampaknya pecinta film, selain film Turtles Can Fly dan menggunakan soundtrack sebagai pengiring liriknya, rapper bernama lahir Timothy Elpadaro Thedford ini juga menggunakan potongan film Willy Wonka & The Chocolate Factory (1971) dalam part ke-2, “…Because He Breaks the Rules”.

Grandpa Joe: Wh-When does he get it?
Willy Wonka: He doesn’t
Grandpa Joe: Why not?
Willy Wonka: Because he broke the rules
…..
Willy Wonka: It’s all there, black and white, clear as crystal! You stole fizzy lifting drinks! You bumped into the ceiling which now has to be washed and sterilized, so you get nothing! You lose! Good day, sir!

Ia seperti ingin menganalogikan Charlie dalam film tersebut yang melanggar peraturan dengan cerita hubungan personalnya di mana kekasihnya bersama laki-laki lain.

“Because he break the rules”

bahwa…

“You stole fizzy lifting drinks! You bumped into the ceiling which now has to be washed and sterilized, so you get nothing! You lose!”

tampaknya menjadi analogi untuk rapalannya liriknya berikut:

The handling of a heart’s a very delicate art cause it’s paper thin
One irrelevant thought that started out as a spark could be a poisonous dart
But they was just chillin’ and at that moment
The right brain says to the left just kill em

 

 Potongan film Willy Wonka & The Chocolate Factory yang dijadikan sample

Di bagian lagu lainnya, “FYI”, Jay Electronica menggunakan sample dari suara Elijah Muhammad, ketua Nation of Islam, gerakan Islam di Detroit yang beranggotakan African-American yang sering dianggap sebagai gerakan separatis. Malcolm X, Muhammad Ali, Jay Electronica sendiri, bahkan Snoop Dogg kabarnya pernah menjadi anggota dari gerakan ini. Di bagian ini, ia seperti ingin bilang hal klise dengan cara yang tidak klise, bahwa manusia butuh lebih sadar terhadap hal-hal sekitar, bukan sekadar sadar materi.

While you was blowin’ X amount of dollars on a bracelet
The sovereign nation of France was openin’ they files on the UFO phenomenon: i.e. spaceships
It’s just the facts, Jack may as well face it
Every rhyme I write the seal get cracked in the chapter of
Revelations
A atom get cracked in the blackness of meditation.

Lirik di atas seperti menyambut pidato dari Elijah Muhammad yang muncul di dalam lagu berikut ini:

“Don’t get me wrong now. Don’t make a mistake in thinking that I’m telling you this was the beginning of the man on the Earth. Fifty thousand years ago is like telling you thirty days ago or ten days ago or five days ago, to the age of the universe. We have no exact record of it but it runs way into the trillions.”

 

 

Salah satu pidato Elijah Muhammad

Selain menegaskan pandangan politik personalnya yang begitu dekat dengan Nation of Islam (dikabarkan bergabung juga dalam Five-Percent Nation yang didirikan atas penolakan ide dasar Nation of Islam), Jay Electronica yang dikenal sebagai Muslim ini juga tampaknya menjalankan hubungan open relationship terhadap kepercayaan-kepercayaan lain. Tengok lirik-liriknya yang seperti merangkul tuhan-tuhan dan nabi-nabi lainnya.

“To the true nature of growth; the Christlike Buddha man”

Seperti belum cukup eclectic dengan Willy Wonka, anak-anak Kurdi, dan pidato ketua gerakan Nation of Islam dalam satu lagu; di part “Voodoo Man”, Jay Electronica pun menggunting-tempel suara John Hilkevitch, yang setelah sejumlah pencarian instan ternyata adalah seorang kolumnis dari Chicago Tribune yang melaporkan penampakan UFO berbentuk disc di O’Hare International Airport pada tahun 2006.

“..on November 7th saw this disc-shaped object floating above the sea concourse of the United Airlines at O’Hare. Very low in the sky, it was still daylight, very distinct. Didn’t look like an airplane, a helicopter, or anything else.”

Video tentang  O’Hare International Airport UFO sighting

Sebelum selipan laporan tentang UFO di atas, lirik sempat menyinggung soal pesawat berbentuk disc. Dugaan saya ia mau bicara soal keyanikan atau musik, atau mungkin keyakinannya soal musik (hip-hop).

Voodoo man, tap dancing in the French Quarter
Walking on water with a scroll in my hand
The blueprints for a disc shaped-like vessel

“Walking on water” seperti sedang membicarakan Yesus dan “blueprints for a disc shaped like vessel” bisa saja bicara soal musik namun ia memainkan penangkapan makna pendengarnya dengan berita UFO yang berbentuk mirip disc.

Sambil sengaja menimpa laporan di atas sebelum fade out, ia menyambutnya dengan lirik berikut:

Voodoo man, civilize the savage
Criticize the parish
Spreading false doctrine
Terrorize the cleric for carrying on nonsense
Specialized lies to paralyze the conscience

Jelas, ia sedang mengkritik hip-hop. Mungkin ia mau bilang, please, stop your trash songs.

Let the wisdom of Elijah purify ya
Take a nigga higher

Ujung-ujungnya, ia pun tetap curhat soal kemuakannya pada lagu-lagu hip-hop yang tak jauh-jauh dari merapalkan rima soal tubuh perempuan,

“but y’all would much rather hear me rappin’ bout tras, the size of Erykah’s ass”

ngomongin narkoba,

“saying you sell crack”,

dan mobil-mobil mewah.

“now you’re on the wire talking about two-foot tires”

Lagu ini seperti mau bilang bahwa rapper asal New Orleans ini tidak main-main dengan rimanya. Dengan lirik yang begitu kaya referensi dan guntingan-guntingan sample dengan timing yang pas, sebutan “hip-hop’s Jack Kerouac” oleh media sama sekali tidak berlebihan.