maksa moksa

Terlalu banyak suara, menggenangi daun telinga dan tangkai toa. Airnya keruh, banyak yang tersesat tenggelam terapung jadi bakteri parasit kuota. Jalan rumit terlihat penuh persimpangan membentuk kerutan-kerutan di wajahmu. Sendu-sendu puluhan tahun lalu yang kamu peluk setiap hari membangun gang-gang di bawah bibir dan di dahimu ada jalan lurus cemas beraspal dan di ujung mata ada menara pemancar tempat aku mencari sinyal 4G terakhir setelah berkali-kali banting HP. Peta dengan proyeksi paling tepat di dunia yang akan aku unduh untuk petunjuk jalan ke kepalaku. Karena pagi adalah pencarian ulang alasan dan bangun pagi adalah kelahiran kembali tanpa tangis dan azan di telinga, meski dengan volume isakan yang sama dalam hati dan keinginan yang sama besarnya untuk merangkak kembali ke dalam rahim.

Advertisements

privileges

nobody tells you to keep it secret. “don’t let people know”. no one tells you to stay realistic, one foot on the ground. or even two feet. no one questions your earnest. no “but” after “happy for you”. no ice-cold doubting nights. no “what if”. less fear. less fear. less fear. less tears. less insecurity. less confidentiality. less lies. less emergency kit. more plans. more futures. more respect. more plans. more futures. more sacrifices. more plans. more futures. more recognition. no practice to disown your sadness. no hope searching from random post on tumblr. no hunting to feel relate from content which might be blocked by your government.

less fear. less fear. less tears. more plans. more futures.

Meretas

Hari ini terbuat dari kayu yang dipinjamkan oleh pohon yang tumbuh diam-diam dan dipupuk seingatnya. Dituju lewat jalan-jalan yang dipenuhi pohon, rawa, batu, sampah, kaleng susu, dan bungkus sam soe; yang kita injak-injak selagi meretas jalan. Jalan terjahit rapi kuat double pedas digembok ramai-ramai oleh tetanggamu. Kita retas tanpa listrik di kepalamu. Kabel-kabel server yang tampak kusut di ujung rambutmu. Belok kanan kata waze, belok kiri kata googlemaps. Terabas saja katamu. Hancur dulu baru lampau. Mengajak shiva berdansa. Uninstall waze, report as spam googlemaps, kremasi smartphone-mu.

Yang pasti, sedih kita bukan kita karena sedih adalah kaleng susu dan bungkus sam soe.

Ground Control to Major Tom

Matahari tenggelam di kepalamu
maka tirai ditutup ketika
matahari masih 14.00

orang-orang menyepi di tubuhnya
menutup peti berbicara
melarung abu smartphone di ciliwung
dan tersangkut takut
belum juga sampai jakarta

Siesta!
waktunya menutup toko dan mata
mengunci pintu sendi karena
di luar hujan, petir, encok, dan ego

Pernahkah waktu selambat ini
ketika siddharta bertapa di gua hira
dan menguliti waktu
dengan gunting kuku

Nikmati sunset hingga tetes terakhir
dan kembali bersembunyi
di balik seragam astronot masing-masing

 

*minjem potongan lirik “Space Oddity” dari David Bowie:
Ground Control to Major Tom
Commencing countdown, engines on
Check ignition
and may God’s love be with you

Lima Serial Kesukaan 2016

Sebentar lagi bhay 2016. Saya mau membagi daftar serial terbaik yang saya tonton tahun ini. Di 2016 ini menonton serial tidak se-all-I-can-watch tahun-tahun sebelumnya. Dari dua belas serial yang saya ikuti di tahun ini, ada lima yang paling saya suka. Hampir semuanya serial lanjutan dari yang sudah ditonton sebelumnya. Ada juga musim-musim lanjutan yang saya malas tonton sampai selesai di tahun ini, seperti Mr. Robot.

#5 Stranger Things

Serial baru dari Netflix ini menyenangkan untuk ditonton. Saking senang dan gemasnya serian ini membuat segala snobbish comments soal serial yang jauh dari original nggak penting lagi. Karena menonton ini rasanya seperti minum cokelat hangat di hari yang dingin sambil selimutan lalu ketiduran.

tumblr_oazecff1lp1s3sirmo2_540
Dustin, yang paling ompong sekaligus paling logis satu geng.

#4 Penny Dreadful s. 3

Serial yang isinya kumpul gaib ini semakin bagus setiap musimnya. Di musim ketiganya, Vanessa Ives (Eva Green), harus berhadapan dengan drakula! Walaupun ada isu bahwa tak akan ada musim keempat, tapi kabar ini masih simpang-siur. Jadinya nanggung gila kalau ternyata nggak ada musim lanjutan karena musim ketiga seperti belum tuntas. Akhir dari musim ini seperti menjanjikan arwah-arwah, setan-setan, penyihir-penyihir, penipu-penipu, orang gila-orang gila, iblis-iblis, sampai siluman-siluman yang belum keluar dan menggila di London.

d5d16f92a5f74474c4eec461d5be6cd0
Di musim ini saya baru tahu bahwa ‘alienist’ merupakan istilah kuno untuk psikolog dan psikiater.

#3 Veep s. 5

Selina Meyer yang brengsek belum berhenti juga bikin penontonnya kesal dan suka sekaligus. Musim kelimanya tahun ini cuma membuktikan bahwa ketika kita kira dia sudah sekeji itu, dia mampu lebih keji lagi. Oh, dan musim ini terasa lebih relevan mengingat tahun ini Amerika Serikat sedang mengadakan pemilihan presiden dan salah satu calonnya perempuan. Namun, ternyata serial kadang lebih seru dan lebih masuk akal dibandingkan kenyataan.

screen-shot-2013-06-24-at-12-35-09-am
Andai saja Hillary Clinton seseru ini.

#2 Black Mirror s. 3

Setelah serial antologi ini lama dikira sudah bhayy dan tak ada terusannya, ternyata tahun ini ada kabar gembira (lagi-lagi) dari Netflix. Black Mirror musim ketiga dibuat. Lebih dari itu, yang biasanya satu musim hanya tiga episode, kali ini ada enam! Ada satu episode lagi yang belum saya tonton, tapi dari semua saya paling suka “San Junipero” untuk cerita gelap berbulu romantis. Saya dan seorang teman sepakat bahwa di balik cerianya setting 80-an, full music dan bling-bling juga romantisme, justru episode ini adalah salah satu episode dengan ide inovasi teknologi paling gelap yang pernah ada di Black Mirror. Singkatnya: akhirat 3.0.

“Uploaded to the cloud, sounds like heaven.”

Satu lagi, episode “Shut Up and Dance” yang mengingatkan kita soal teknologi internet belakangan ini, bahwa konsep pilihan hampir tidak punya arti.

#1 Better Call Saul s. 2

Spin off series dari Breaking Bad yang menceritakan pengacaranya Walter White ini awalnya bikin ragu. Setelah diikuti ternyata perasaan-perasaan gila yang bikin kita menganga saat nonton Breaking Bad muncul lagi. Terutama di episode terakhir musim ini. Better Call Saul memberikan latar belakang cerita mengapa Saul Goodman, si pengacara kriminal, bisa sampai setengil dan senyentrik di Breaking Bad. Saul masih Jimmy McGill, masih mencari-cari, masih polos, masih kalah. Yang tak kalah menarik dari cerita ini adalah hubungan Jimmy dengan kakaknya, Chuck, yang merupakan pengacara ternama.

Gambarnya yang enak, ceritanya yang baru, karakter-karakternya yang spesifik dan punya kesempatan yang sama besar untuk dibenci dan disukai, dan dialog yang nggak klise; sudah lebih dari cukup bikin serial ini serial pertama favorit saya di tahun 2016.

better-call-saul-hail

Barefoot

Pagi ini denting bel membawa saya melesat kembali ke Barefoot yang bangunannya terbuat dari kayu dan tembok tua teduh di Galle Road, Colombo, delapan bulan lalu. Bersama seorang teman baru, saya coba memanfaatkan waktu yang sudah sempit di Colombo untuk mencari oleh-oleh seadanya. Berbekal waktu tiga puluh menit dan tuktuk yang disupiri oleh seorang bapak muslim yang beberapa kali mengucap salam dalam islam untuk kami balas. Toko ini menjual mulai dari pakaian, kain, tas, mainan, kerajinan tangan, buku, sampai kartu-kartu pos yang lukisannya cerita soal teh ceylon mahal yang dipetik susah payah oleh ibu yang kemudian diminum anaknya di sebuah kedai teh jaringan global. Sejumlah foto tua lain yang memperlihatkan tetua-tetua Ceylon bergaya campuran Eropa mengingatkan saya akan salah satu nenek moyang yang berasal dari sana. Mengingatkan saya akan pesan pendek setengah kelakar ayah saya sebelum berangkat agar saya mencari kakeknya.

Ada perasaan nyaman ketika berada di toko yang sebagian besar diisi orang Eropa ini. Toko yang saya datangi dengan terburu-buru di sela istirahat kursus pendek yang menjadi tujuan saya di Colombo. Anehnya, perasaan tenang tersebut baru saya rasakan kembali pagi ini dengan tiba-tiba (terlalu tiba-tiba). Bahkan perasaan tersebut lebih jelas rasa dan artinya pagi ini dibandingkan ketika saya benar-benar berada di sana Februari lalu. Tapi apa jangan-jangan sebenarnya perasaan ini baru muncul sekarang? Perasaan baru yang terbangun akan kelaparan saya belakangan ini akan rasa tenang = serene (‘serene’ saya tulis sebagai jawaban ketika fasilitator kursus di Colombo bertanya apa yang kami harap rasakan seusai kursus ini). Maka mungkin rasa tenang yang saya coba cari pagi ini pun berwujud potongan momen saya di Barefoot. Sebelum kami kembali ke kelas dan saya membuka mata.

dsc_1409

Lost and found

You typed those wosrd worng. Never did that before. Almost never. It is 1 out of 5 probability now. You’re walking slowly on the full of cracks pavement trying to find your old self. Maybe you’d find it somewhere between your office and home, your working desk and gloomy bed. It must be anywhere, you thought. In the corners of those too long articles you’ve added to the pocket to kill your commuting time on a train. In the deepest well where the water looks pitch black and you’ve buried your sadness yesterday. Between your cable and your long time no read e-book reader. Or you could find it between the pause of an unexpected shuffled song and an awaited forever favorite song. But you could also try to look for it between the episodes of the weekly TV series which lately you forgot to illegally download. Is it possible to get back to your old regimen as Mr. Robot did reversely when you’ve arrived on a map where you feel you’ve lost and found at the same time?

Satu inci dan dua gigabytes lebih muram

Aku tertidur di dalam batang pohon selebar kasur queen size
cukup untuk bolak-balik gelisah dua kali
bermimpi terbangun di kamar yang hujan lebat
air menjalari tembok
mirip sepasang pipi
yang rutin bersedih di minggu sore

merindukan lautan empat inci seluas Pasifik
yang telah kau upgrade menjadi lima inci
dan random access memory yang dua gigabytes lebih cepat

menjadi tiga gigabytes akses memori acak yang sesak
dan lautan yang satu inci lebih kelam
sama dengan mimpi-mimpi yang lebih seram
menyuluti amygdala dalam-dalam
menjalar cepat tanpa suara
yang baru berhenti oleh sebuah lagu
soal pohon bergamot yang membuatnya padam

Bising

Akhir-akhir ini palu-arit tampil tak hanya di toko bangunan, tapi tiba-tiba juga meramaikan berita, timeline, sampai obrolan antargrup. Komunis atau PKI sedang jadi bulan-bulanan. Tak sulit lah menebak pihak mana yang pro soal pelarangan ini-itu yang “berbau komunis”. Polanya lagi-lagi terasa tak berbeda jauh juga dengan waktu hebohnya isu LGBT beberapa bulan lalu (apa kabar ya sekarang?). Sumbu-sumbu isu yang hanya perlu dibakar dengan satu-dua berita yang hampa nilai jurnalistik, kemudian lekas terbakar oleh kepanikan masyarakat atas nama moral. Oh tentu mudah terbakar, bahan bakarnya mudah ditemukan di mana-mana kok, ketidaktahuan. Yang beragam itu alat pengipasnya, tapi yang favorit ya agama dan Pancasila. Menurut saya, siapa pun yang paham rumusnya, punya sumber daya, waktu, dan motif yang memadai sih nggak terlalu sulit melakukannya.

Maka, sayang rasanya jika keberpihakan terhadap yang dipinggirkan, disakiti, dan didiskriminasi pun berakhir menjadi asap. Sayang karena keberpihakan kita–dalam bentuk status marah-marah, membodoh-bodohi berita, termasuk menggunakan jargon untuk membela, apalagi menggunakan lawakan-lawakan dan ironi yang cenderung bias kelashanya akan berujung menjadi pengipas isu.

Bias kelas karena premisnya menjadi semacam:
“Nggak pernah baca buku Karl Marx yah, bego deh!”


Di Indonesia, buku–bahkan ilmu pengetahuan, adalah sesuatu yang masih sangat bias kelas. Akan tidak bias jika kalimatnya: “kaya raya kok nggak baca buku”. Pernyataan, konten, status atau apa pun yang menggunakan formula ini saya jamin nggak solutif seciprat pun. Lagi-lagi, hanya pengipas api yang kepalang terbakar, setidaknya turut menyebarkan asap-asap yang memburamkan yang ingin diburamkan.

Media, orang, atau siapa pun yang menanggapi isu ini dengan metode knowledge-based pun lebih patut diapresiasi. Setidaknya, memanfaatkan momen menjadi celah membuka mata dengan menjadi relevan. Menjadi suara jernih di tengah kebisingan pendapat yang nggak mampu menyentuh kepala dan hati masyarakat yang tidak tahu. Lagipula ada yang senang dan diuntungkan ketika kita bising.

A Mi Manera

Nggak perlu banyak alasan buat saya untuk memutuskan menonton serial Better Call Saul. Fakta bahwa ini adalah spin-off story dari salah satu serial paling gila yang dulu saya ikuti, Breaking Bad (2008-2013) sebenarnya sudah lebih dari cukup. Tapi lebih dari itu, serial ini juga dibuat oleh orang yang sama, Vince Gilligan, dan bercerita tentang salah satu karakter pendukung Breaking Bad yang nyentrik berat, Saul Goodman. Meskipun pada awalnya Better Call Saul seperti memikul beban berat dari Breaking Bad, namun ternyata serial ini tak kurang intensnya. Sama-sama bisa buat yang nonton punya rasa sayang dan benci yang sama besarnya terhadap karakter-karakternya. Selain itu, sama-sama berhasil bikin penontonnya cukup berantakan dalam mengartikan konsep moral dan nilai. Kita seperti ditantang buat menerima Jimmy McGill, nama asli Saul, dengan cara-cara anehnya dalam mencapai tujuan hidupnya.

Menolak tawaran dan sengaja minta dipecat dari firma hukum bergengsi bukan tindakannya yang paling gila. Begitu juga waktu Jimmy bohong habis-habisan pada guru sekolah cuma supaya bisa pakai bendera Amerika di lapangan sekolah buat latar belakang syuting iklannya. Jimmy yang mungkin bisa langgar banyak hukum dan aturan kerja pengacara demi mengikuti kata hatinya ini punya pacar yang sama-sama pengacara, Kim Wexler. Berkebalikan dengan Jimmy, Kim ini pengacara yang lurus banget, kerja keras, ambisius, dan nggak akan mau langgar hukum. Kim kerja di firma kakaknya Jimmy, Charles McGill, yang juga merupakan panutan Jimmy di dunia hukum. Menurut Jimmy, kakaknya Chuck ini adalah pengacara yang pintarnya kelewatan dan memang YA (terutama setelah menonton episode terakhir di season dua).

Ada satu adegan sederhana yang menurut saya cukup membekas di season dua. Karena kelakuan Jimmy yang dianggap merugikan, Kim yang jabatannya sudah tinggi ini pun dihukum oleh bossnya untuk kerja di bagian filing. Adegan ini menurut saya merupakan bangunan paling kuat dalam penggambaran karakter Kim Wexler sejak season pertama. Dalam waktu kurang dari tiga menit, tepatnya dalam durasi satu lagu penuh milik Gypsy King, “A Mi Manera”, Kim meneleponi entah berapa banyak kontak yang ia punya cuma buat satu tujuan, keluar dari bagian filing dengan penuh martabat.

Kim bukan Jimmy dengan pilihan-pilihan gilanya, yang ia lakukan adalah kerja keras dengan tekun dan gigih agar mendapatkan klien penting buat Hamlin, Hamlin, & McGill. Dengan asumsi bahwa mendatangkan klien penting akan mengembalikannya ke posisinya. Di luar hubungan romantik dan rasa sayangnya pada Jimmy, Kim nggak rela pakai cara Jimmy. Lagu “A Mi Manera” yang merupakan versi gypsy-nya “My Way” dari Frank Sinatra pun rasanya nggak akan pernah sepas ini dimainkan dari awal sampai akhir dalam serial televisi tentang pengacara.